Fakultas Teknik Kampus Karangmalang, Yogyakarta, 55281
You are here
Culinary Innovation Festival 2026 Hadirkan Talk Show “From Vegetable to Valuable”
Primary tabs

Yogyakarta – Rangkaian kegiatan Culinary Innovation Festival 2026 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menghadirkan sesi talk show bertajuk “From Vegetable to Valuable” yang mengangkat isu inovasi bahan pangan nabati menjadi produk kuliner bernilai tambah dan berpotensi dikembangkan secara komersial. Sesi yang berlangsung pada rangkaian kegiatan festival tersebut menghadirkan praktisi kuliner profesional Chef Arif Maulana Ihsan sebagai narasumber dan Nurulia Wijayanti, S.Pd., M.Pd., dosen Pendidikan Tata Boga UNY, sebagai moderator. Diskusi berlangsung interaktif dengan melibatkan mahasiswa dan pengunjung festival.
Dalam pemaparannya, Chef Arif menekankan pentingnya memahami perkembangan tren pasar sebagai bagian dari proses pengembangan produk kuliner. Menurutnya, mahasiswa perlu mampu membaca perilaku dan gaya hidup konsumen, khususnya generasi muda, kemudian menerjemahkannya menjadi peluang inovasi produk. Salah satu contoh yang dibahas adalah budaya nongkrong di kafe yang berkembang di kalangan Gen Z. Tren tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk menciptakan produk yang tidak hanya memiliki cita rasa yang baik, tetapi juga sesuai dengan karakter konsumen dan memiliki daya tarik untuk dipasarkan.
Selain aspek tren pasar, diskusi juga menekankan pentingnya pemahaman ilmiah dalam pengembangan produk. Inovasi kuliner tidak cukup dilakukan melalui proses coba-coba, tetapi perlu didukung oleh pemahaman mengenai karakteristik dan fungsi setiap bahan, penggunaan peralatan, serta prinsip pengolahan yang tepat. Chef Arif memberikan contoh mengenai penggunaan leavening agent, termasuk perbedaan fungsi baking powder dan baking soda. Pemahaman terhadap karakteristik bahan tersebut menjadi penting agar mahasiswa mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang konsisten dan memenuhi standar pengolahan yang baik.
Salah satu bagian menarik dalam sesi ini adalah pembahasan mengenai ubi ungu sebagai bahan pangan lokal yang dapat dikembangkan menjadi produk kuliner bernilai tinggi. Ubi ungu ditempatkan sebagai bahan utama atau “artis” dalam produk sehingga karakteristik bahan tetap menjadi bagian penting dari identitas produk. Pengembangan produk dilakukan melalui proses substitusi bahan secara terukur dan berdasarkan pemahaman terhadap sifat bahan. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa diajak memahami bagaimana perubahan komposisi dapat memengaruhi karakteristik produk, termasuk tekstur, kelembutan (moist), cita rasa, dan penerimaan konsumen. Pendekatan ini menunjukkan bahwa bahan pangan lokal memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk inovatif apabila didukung kreativitas, pengetahuan teknis, serta pemahaman terhadap kebutuhan pasar.
Pada bagian akhir pemaparan, Chef Arif menjelaskan bahwa keberhasilan pengembangan produk kuliner dapat dilihat melalui tiga unsur utama, yaitu People, Equipment, dan Ingredients. People berkaitan dengan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, kreativitas, dan kemampuan untuk mengembangkan produk. Equipment berkaitan dengan ketersediaan dan ketepatan penggunaan peralatan dalam proses produksi. Sementara itu, Ingredients mencakup pemilihan serta pemahaman terhadap karakteristik bahan yang digunakan. Ketiga unsur tersebut saling berkaitan dalam menghasilkan produk kuliner yang berkualitas. Dengan demikian, inovasi produk tidak hanya bergantung pada kreativitas, tetapi juga pada kemampuan mengintegrasikan sumber daya manusia, teknologi peralatan, dan bahan baku secara tepat.
Sesi talk show kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab interaktif bersama mahasiswa dan pengunjung. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan yang disampaikan, terutama berkaitan dengan pengembangan produk, substitusi bahan, teknik pengolahan, serta peluang komersialisasi produk kuliner. Melalui sesi “From Vegetable to Valuable”, Culinary Innovation Festival 2026 tidak hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan inovasi kuliner, tetapi juga menjadi wadah pembelajaran bagi mahasiswa untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan praktik industri. Kegiatan ini sekaligus mendorong mahasiswa Pendidikan Tata Boga untuk melihat bahan pangan lokal sebagai sumber inovasi yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan memiliki peluang di pasar.
Foto Kegiatan: https://drive.google.com/drive/folders/1_Mg8KW4NKWKIV1FWD04zWjESKO9oEeI9...
Album
Contact us
Copyright © 2026,










